Berita Utama

Monitoring

Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan

| Senin, 04 Maret 2019 - 14:14:32 WIB | dibaca: 327 pembaca

Filariasis dan Cacingan merupakan salah satu Penyakit Menular Tropik Terabaikan (Neglected Tropical Disease) yang merupakan salah satu prioritas Program Pembangunan Kesehatan 2015-2019. Dalam upaya mencapai Eliminasi Filariasis 2020 dan Reduksi Cacingan Tahun 2019, pemerintah pusat memberikan dukungan kepada pemerintah daerah melalui dana dekonsentrasi untuk melaksanakan POPM Filariasis dan Cacingan dengan total cakupan seluas kabupaten/kota. 

Program eliminasi penyakit ini memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dengan menurunkan angka kecacatan dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Pencanangan program global eliminasi filariasis yang terintegrasi dengan kecacingan, melalui pemberian obat pencegahan secara massal terbukti lebih cost-effective dibandingkan pendekatan lain seperti pengendalian vektor.

Filariasis atau elephantiasis atau Bahasa Indonesia dikenal sebagai penyakit kaki gajah, sedangkan di beberapa daerah di wilayah Kalimantan dikenal sebagai “untut” adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening ditularkan melalui nyamuk. Penyakit ini dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya. Secara tidak langsung, penyakit yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk ini dapat berdampak pada penurunan produktivitas kerja penderita, beban keluarga dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara yang tidak sedikit.

Di Indonesia upaya pemberantasan filariasis telah dilaksanakan sejak tahun 1975 terutama di daerah endemis tinggi filariasis. Pada tahun 1997, World Health Assembly menetapkan resolusi “Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem”, yang kemudian pada tahun 2000 diperkuat dengan keputusan WHO dengan mendeklarasikan “The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year 2020”.

Upaya besar telah dimulai dengan Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA) pada tanggal 1 Oktober 2015 oleh Menteri Kesehatan.  Dengan dilaksanakannya BELKAGA diharapkan seluruh kabupaten/kota endemis filariasis telah mulai melaksanakan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal (POPM) Filariasis pada tahun tersebut setahun sekali selama lima tahun berturut-turut.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan beberapa kegiatan dalam program pengendalian filariasis dan kecacingan di Kalimantan Tengah tahun 2019 melalui Monitoring dan Evaluasi POPM Filariasis dan Kecacingan diharapkan adanya dukungan secara berkelanjutan dari pemerintah kabupaten/kota serta lintas sektor (termasuk tokoh masyarakat) dan lintas program terutama untuk kabupaten/kota yang cakupan POPM nya masih rendah. Perlu komitmen yang tinggi dari Pemerintah Kabupaten setempat untuk pelaksanaan program eliminasi filariasis dan reduksi kecacingan dan adanya dukungan dana operasional pelaksanaan program eliminasi filariasis dan reduksi kecacingan selama minimal lima tahun berturut – turut.

Tujuan di adakannya pertemuan ini untuk Terkoordinasinya kegiatan Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan kepada Kepala Bidang / Kepala Seksi dan Pengelola Program Filariasis dan Kecacingan, Kepala Seksi / Pengelola Program Peningkatan Gizi serta Lintas Program / Lintas Sektor Terkait dengan memanfatkan sumber daya yang ada. Dan diperolehnya masukan dan penguatan demi terlaksananya Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan POPM Filariasis dan Kecacingan tahun 2019 sesuai target program.

 

Sumber : Bidang P2P










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)