Berita Utama

Promkes

Orientasi Model Intervensi Promosi Kesehatan Generasi Milenial Anti Stunting (GEN-MANIST)

| Senin, 28 Oktober 2019 - 10:55:23 WIB | dibaca: 166 pembaca

Palangka Raya - Saat ini Indonesisa masih memiliki masalah gizi masyarakat akibat tingginya prevalensi anak yang mengalami gizi kurang. Salah satu manifestasi kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang dan terjadi di masa lalu adalah apa yang dikenal dengan istilah STUNTING. Perlu diketahui bersama bahwa Provinsi Kalimantan Tengah menempati urutan 5 terbawah dalam tingginya prevalensi balita Stunting di Indonesia (meskipun data Riskesdas 2018 mengalami penurunan dari angka pada tahun 2013), yaitu sebesar 37,2 %.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan Prov.Kalteng dr.Suyuti Syamsul, MPPM yang saat itu wakilkan oleh Kepala Bidang Kesmas dr. Fery Iriawan, MPH menambahkan, Sudah banyak penelitian yang menjelaskan tentang faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya sunting seperti kondisi kesehatan dan gizi ibu sebelum dan saat kehamilan serta setelah persalinan mempengaruhi pertumbuhan janin dan risiko terjadinya sunting. Faktor lainnya seperti postur tubuh ibu yang pendek, jarak kehamilan yang terlalu dekat, ibu yang masih remaja, serta asupan nutrisi yang kurang pada saat kehamilan. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 97 Tahun 2014 disebutkan bahwa faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil adalah terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan, dan terlalu dekat jarak kelahiran. Usia kehamilan ibu yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi BBLR mempengaruhi sekitar 20% dari terjadinya sunting. Menurut data Susenas tahun 2017, hasil survei pada perempuan berumur 15-49 tahun diketahui bahwa 54,01% hamil pertama kali pada usia di atas 20 tahun (usia ideal kehamilan). Sisanya sebesar 23,79% hamil pertama kali pada usia 19-20 tahun, 15.99% pada usia 17-18 tahun, dan 6,21% pada usia 16 tahunu ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa setengah dari perempuan yang pernah hamil di Indonesia mengalami kehamilan pertama pada usia muda atau remaja, dan ini merupakan factor risiko terjadinya masalah stunting pada anak.

Masalah Stunting merupakan masalah kita bersama, dan masalah kesehatan ini sebenarnya dapat dicegah dengan berbagai upaya diantaranya melalui promosi kesehatan. Upaya promosi kesehatan yang dapat dilakukan dengan sasaran remaja adalah peningkatan pengetahuan remaja tentang stunting melalui berbagai media. Media Komunikasi yang biasa digunakan dalam kehidupan remaja adalah media sosial. Penggunaan media sosial saat ini sudah tidak asing lagi bahkan dari bangun tidur bangun hingga tidur kembali. Setiap individu selalu terkoneksi melalui media sosial, (28/10).

 

 

Sumber : Bidang Kesmas










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)