Orientasi Teknis Pelayanan Kesehatan Keluarga

| 23 Juli 2019 | dibaca: 60 pembaca

Tema:


Kesmas -Kesehatan Keluarga meliputi kesehatan Ibu, bayi baru lahir, bayi, balita, anak pra sekolah, remaja dan lansia (life cycle approach). Dan kesehatan keluarga merupakan salah satu program prioritas utama Pembangunan Kesehatan dimana Indikator kematian Ibu (AKI) dan kematian bayi (AKB) juga menjadi salah satu sasaran pokok RPJM Tahun 2015 -2019.



Angka Kematian Ibu telah berhasil diturunkan dari 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 (SDKI 2012) menjadi 305 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015 (SUPAS 2015). Sementara itu, Angka Kematian Bayi (AKB) juga telah mengalami penurunan dari semula 32 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2012) menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2017).



Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dr. Suyuti Syamsul, MPPM menambahkan, Umur Harapan Hidup di Indonesia meningkat dari 69,8 tahun (2010) menjadi 70,8 tahun (2015), dan diperkirakan akan meningkat menjadi 72,2 tahun (2030 – 2035). Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 jumlah lansia sebesar 18,1 juta jiwa 7,6 % dari total penduduk. Masalah yang sangat mendasar pada lanjut usia adalah masalah kesehatan, Rabu(26/6).



Salah satu upaya didalam penurunan AKI dan AKB adalah menjamin pelayanan kesehatan sesuai standar berdasarkan siklus hidup, melalui kegiatan-kegiatan antara lain:



· Masa hamil: ANC terpadu, penyediaan Buku KIA, konseling IMD dan KB Pascapersalinan.



· Masa bersalin dan nifas: Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), pelayanan nifas, pelayanan neonatal esensial, IMD, KB Pascapersalinan.



· Masa bayi dan balita : konseling ASI eksklusif, pemberian PMT balita, revitalisasi Posyandu.



· Masa usia sekolah dan remaja: revitalisasi UKS, pemberian PMT anak sekolah, penggunaan Rapor Kesehatanku, penambahan Puskesmas PKPR, pemberian tablet tambah darah (TTD).



· Masa dewasa muda: pelayanan kesehatan reproduksi calon pengantin, pemberian imunisasi dan TTD.



· Masa lansia: pemberdayaan lansia, posyandu lansia terintegrasi.



Salah satu indikator proksi dalam penurunan AKI, AKB adalah persalinan di fasilitas kesehatan. Melalui persalinan di fasilitas kesehatan diharapkan ibu mendapatkan pertolongan persalinan sesuai standar sehingga dapat mencegah terjadinya kematian. Namun kondisi saat ini cakupan persalinan di fasilitas kesehatan secara nasional baru mencapai 84,37% (laporan rutin tahun 2017). Untuk persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan Provinsi Kalimanatan Tengah dibawah target :56,24% (laporan rutin tahun 2018).



Selain AKI, AKB, Indonesia juga menghadapi masalah kesehatan lain yang menjadi prioritas pembangunan kesehatan. Salah satunya adalah stunting yang merupakan konsekuensi dari masalah gizi kronik yang terjadi pada saat ibu hamil sampai usia 2 tahun. Stunting yang terjadi pada masa awal kehidupan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, juga menimbulkan gangguan pada tahap kehidupan selanjutnya, kemampuan belajar yang rendah, produktifitas dan pendapatan yang rendah saat dewasa. Anak yang menderita stunting mempunyai risiko lebih tinggi menderita penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular lainnya. Stunting menjadi salah satu indikator untuk mengukur kualitas sumberdaya manusia di suatu negara.



Salah satu faktor risiko stunting adalah asupan makanan yang tidak adekuat yang menyebabkan gangguan penyerapan zat gizi dalam tubuh sehingga kebutuhan gizi tidak terpenuhi dan terjadi penyakit infeksi berulang. Faktor risiko lain adalah pola asuh yang kurang baik seperti tidak memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang tepat setelah usia 6 bulan serta keterbatasan kemampuan keluarga menghidangkan makanan yang bergizi, disamping itu juga akses terhadap sanitasi dan air bersih yang rendah serta akses terhadap pelayanan kesehatan juga menjadi faktor risiko stunting lain.



 



Sumber : Nope/Kesmas 



Tanggal : 05 Juli 2019 s/d 07 Juli 2019
Tempat : Palangka Raya
Pukul : 08:00 Wib