Peningkatan Manajemen Terpadu Pengendalian TBC Resistan Obat (Mtptro) Bagi Petugas Kesehatan Di Fasy

| 25 Juli 2019 | dibaca: 94 pembaca

Tema:


Palangka Raya -TBC
merupakan penyebab kematian ke-9 di dunia dan penyebab utama agen infeksius tunggal
dengan peringkat di atas HIV/AIDS.
Menurut WHO dalam Global TBC Report tahun 2017, saat ini Indonesia berada di 2
negara terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TBC setelah India dengan
estimasi insiden sebesar 1.020.000 kasus atau 391 per 100.000 penduduk dan
mortalitas 123.000 atau 47,1 per 100.000 penduduk (kasus TBC dan TBC HIV positif).
Di global telah disusun End TBC Strategy yang bertujuan mengakhiri epidemi TBC
global.



Dalam Rencana Strategi Nasional 2016-2020, terdapat enam
strategi utama yang diperlukan untuk mencapai target tersebut, yaitu



(1) Penguatan Kepemimpinan Program TBC di Kabupaten/Kota;



(2) Peningkatan Akses Layanan “TOSS-TBC” yang mencakup :
active case



finding dan intensifikasi kolaborasi layanan;



(3) Pengendalian Faktor Risiko;



(4) Peningkatan Kemitraan melalui Forum Koordinasi TBC;



(5) Peningkatan Kemandirian Masyarakat dalam Penanggulangan TBC;
dan



(6) Penguatan manajemen program melalui penguatan Sistem
Kesehatan.



Strategi ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan target
Sustainability



Development Goals (SDGs) tahun 2030 adalah mengakhiri epidemi
TBC, yaitu mencapai penurunan 90% kematian akibat TBC dan penurunan insidens TBC
80% dibandingkan tahun 2015.



Di tingkat nasional, TBC merupakan salah satu program yang
diangkat dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional yang dilakukan pada 5-8 Maret 2018.
Pada pertemuan tersebut, Ibu Menteri Kesehatan mengarahkan agar target
eliminasi TBC di Indonesia dapat dipercepat tercapai di tahun 2030. Oleh karena
itu, diperlukan koordinasi antara pelaksana kegiatan TBC di pusat dan daerah
serta dukungan lintas program dan lintas sektor agar target tersebut tercapai.



Di Kalimantan Tengah, penanggulangan TBC dengan strategi DOTS
sudah dilaksanakan sejak tahun 1995/1996 
hingga sekarang,  berdasarkan
laporan tahun 2017 angka penemuan kasus TBC (CDR) dengan cakupan sebesar 30%,

Penghitungan estimasi beban TBC telah dilakukan dengan
mempertimbangkan variabel jumlah penduduk, status ekonomi dan proporsi
urban/rural di setiap kabupaten kota, berdasarkan perhitungan tersebut di
Kalimantan Tengah pada tahun 2017 diperkirakan ada 11.831 kasus TBC Provinsi
Kalimantan Tengah pada tahun 2018 diberikan  target cakupan yaitu penemuan kasus TBC 60% dari
CDR, yaitu 4.300 kasus yang harus ditemukan di tahun 2018, sementara itu
cakupan/penemuan kasus TBC yang terlaporkan di Kalimantan Tengah





















Tahun




2015




2016




2017




2018




Penemuan kasus




2538




2930




3392




3679






Dari data diatas dapat disimpulkan masih banyak kusus TBC di
masyarakat yang belum terlaporkan, oleh sebab itu peran dari sektor swasta
sangat diperlukan dalam pelaksanaan program pengendalian TBC dengan cara
peningkatan jejaring layanan TBC melalui PPM (public private mix).



CNR Kalimantan Tengah tahun 2018 berada di angka 142/100.000
penduduk, meningkat CNR tahun 2017 yaitu 139/100.000 penduduk, Succes Rate (SR)
sebesar 80% masih jauh di bawah target Nasional yaitu 90 %, sistem pelaporan
dari kabupaten/kota masih belum berjalan dengan semestinya sehingga diperlukan
komitmen untuk penguatan dan pencatatan pelaporan agar didapatkan data yang
akurat dan valid serta diperlukan kerjasama lintas sektor dan lintas program
yang lebih baik untuk meningkatkan penemuan kasus TBC.



Dalam perjalanan program, saat ini Kalimantan Tengah telah
memiliki 12 buah faskes TCM, namun baru 2 faskes yang melayani pengobatan,
sehingga dirasa diperlukan peningkatan kapasitas SDM RS layanan TBC RO di
seluruh faskes. Tujuan dilakukannya pertemuan ini adalah untuk meningkatkan
Kapasitas Petugas di RS Layanan TBC Resistan Obat di Provinsi Kalimantan Tengah,
Kamis (25/7).



 



Sumber : Bidang P2P/TBC



Tanggal : 22 Juli 2019 s/d 25 Juli 2019
Tempat : Palangka Raya
Pukul : 08:00 Wib