Berita Utama

Kampanye MR

Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi dalam Rangka Pelaksanaan Kampanye Measles Rubella

| Rabu, 11 Juli 2018 - 12:51:20 WIB | dibaca: 1885 pembaca

Program Imunisasi merupakan salah satu program kesehatan yang paling efektif dalam Pembangunan Kesehatan - utamanya untuk mencegah kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi atau PD3I. Keberhasilan Program Imunisasi akan hanya dapat dicapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. Untuk melaksanakan hal tersebut sangat dbutuhkan peran serta dari seluruh pihak dan lapisan masyarakat.

Pencapaian target Program Imunisasi memerlukan dukungan para pakar dari berbagai disiplin ilmu - termasuk para dokter spesialis,  ahli kesehatan masyarakat, dan ahli hukum serta  wakil-wakil dari jajaran lintas-sektor serta organisasi profesi bidang kesehatan.

Mengawali sambutannya pada Pertemuan Advokasi, Sosialisasi dan Koordinasi dalam Rangka Pelaksanaan Measles Rubella (MR) Tingkat Provinsi Kalteng, Pj. Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng yang saat itu diwakili oleh Asisten 1 Sekda, Drs. H. Saidina Aliansyah, M.Si, mengingatkan bahwa Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui batuk dan bersin. Gejala penyakit campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batukdan/atau pilek dan/atau konjungtivitis akan tetapi sangat berbahaya bila disertai dengan komplikasi pneumonis, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Rubella adalah penyakit akut dan ringan sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Akan tetapi yang menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat adalah efek teratogenik apabila rubella ini menyerang pada wanita hamil trisemester pertama.

Infeksi rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan selama awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubella kongenital (Congenital Rubella Syndrom/CRS) pada bayi yang dilahirkan. Palangka Raya (10/7).

Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian rubella/Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada tahun 2020. Strategi yang dilakukan untuk mencapai target tersebut adalah :

1.    Penguatan imunisasi rutin untuk mencapai cakupan imunisasi campak ≥ 95% merata disemua tingkatan

2.    Pelaksanaan crash program campak pada anak usia 9 – 59 bulan di 185 kab/kota tahun 2016.

Pelaksanaan kampanye vaksin Measles Rubella (MR) pada anak usia 9 bulan hingga 15 tahun secara bertahap dalam 2 fase sebagai berikut :

-       Fase 1 bulan Agustus – September 2017 diseluruh Pulau Jawa

-       Fase 2 bulan Agustus – September 2018 diseluruh Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah), Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua

3.    Introduksi vaksin MR ke dalam program imunisasi rutin pada bulan Oktober 2017 dan 2018.

4.    Surveilans Campak dan Rubella berbasis kasus individu/Case Based Measles Surveillanse (CBMS)

5.    KLB campak diinvestigasi secara penuh (fully investigated)

Sekda juga berpesan pemberian imunisasi MR pada anak usia 9 bulan sampai dengan < 15 tahun yang dengan cakupan tinggi (minimal 95%) dan merata diharapkan membentuk imunisasi kelompok (herd immunity) sehingga dapat mengurangi transmisi virus ke usia yang lebih dewasa dan melindungi kelompok tersebut ketika memasuki usia reproduksi. Sedangkan jumlah sasaran estimasi kampanye MR tahun 2018 berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan RI yaitu 691.362 anak, jumlah vaksin 86.421 vial.

Kampanye MR dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan imunisasi baik cakupan maupun kualitas dan meningkatkan pemerataan pelayanan. Kegiatan kampanye MR dapat digunakan sebagai kesempatan untuk :

a. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan kerjasama dengan sektor swasta tentang pentingnya imunisasi rutin dan lanjutan.

b. Meningkatkan kerjasama dengan swasta dan partner dalam kegiatan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi (NGO, program berbasis masyarakat, media, institusi budaya, pimpinan masyarakat dan agama, sekolah, humanitarian dan sukarelawan) serta kerjasama dengan mereka untuk membantu program rutin setelah selesai kegiatan imunisasi tambahan.

c. Pada saat pendataan sasaran kampanye MR, juga dimanfaatkan untuk mendata anak yang belum mendapat imunisasi lengkap, untuk dilengkapi pada saat yang sama pada kunjungan berikutnya.
Kegiatan imunisasi tambahan MR tidak boleh mengganggu pelaksanaan imunisasi rutin.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)