Berita Utama

PTM

Deteksi Dini Faktor Risiko Ptm Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2019

| Rabu, 23 Oktober 2019 - 10:44:51 WIB | dibaca: 55 pembaca

Palangka Raya - Pertumbuhan penduduk, peningkatan rata-rata umur harapan hidup penduduk dunia, dan sebagian penurunan umur harapan hidup kelompok usia tertentu dan jenis kelamin tertentu, menyebabkan terjadinya pergeseran penyebab kematian dari kasus penyakit menular, maternal, neonatal, serta masalah gizi ke penyakit tidak menular. Pada tahun 2010 terjadi kematian 52,8 juta jiwa di dunia, sebanyak 65,3% disebabkan PTM dengan penyebab utama penyakit jantung iskemik, stroke, penyakit paru obstruksi kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan bawah, dan  kanker paru. Kematian akibat PTM terus meningkat selama tiga dekade, pada tahun 1990 jumlah kematian di dunia akibat PTM kurang dari 8 juta jiwa, di tahun 2010 mencapai 34,5 juta jiwa. Peningkatan terbanyak disebabkan kasus jantung iskemik dan stroke yaitu 17% di tahun 1990 meningkat  sampai 28% dari total kematian ditahun 2010. Gabungan penyakit menular, maternal , neonatal dan masalah nutrisi menjadi penyebab 24,9 % (13,1juta) kematian dunia di tahun 2010, menurun 18% dari tahun 1990.

Sebanyak 80% kasus penyebab kematian PTM berada di negara berpenghasilan menengah dan rendah. Adanya peningkatan pesat kasus PTM, diprediksi akan menghambat upaya penanggulangan kemiskinan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, karena memaksa  pemerintah memprioritaskan biaya pelayanan kesehatan untuk penderita PTM. Beban yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular antara lain meningkatnya kematian prematur dan disabilitas, yang  akan berpengaruh terhadap produktivitas dan kependudukan serta berperan pada pertumbuhan ekonomi negara. Berdasarkan penelitian World Economic Forum (WEF) disebutkan bahwa, kerugian ekonomi secara global akibat lima penyakit tidak menular, yaitu kanker, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit kronis dan gangguan kejiwaan  mencapai $ 47 triliun pada dua puluh tahun mendatang, apabila tidak ada langkah pencegahan yang dilakukan. Kerugian tersebut, setara dengan 4% GDP tahunan selama dua puluh tahun kedepan. Sebagai perbandingan gambaran  rerata pertumbuhan GDP Indonesia pertahun (2004 – 2012) hanya 5,62 % (World Bank 2013). Untuk mengatasi masalah besar PTM di dunia WHO mengalokasikan 5% dari total budget, sedangkan dukungan dari organisasi pembangunan kesehatan resmi duniahanya 0,9 persen (MDGs &NCD 2010 ).Sehingga aliansi para pemerhati PTM dunia menyatakan penyakit tidak menular sebagai “The next Health Tsunami” bagi negara berkembang (NCD Alliance,2010).

Pada kondisi PTM yang memerlukan upaya kuratif, rehabilitative dan paliatif diperlukan system kesehatan yang siap baik sarana, prasarana maupun tenaga kesehatan. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian masyarakat terhadap PTM, menjadi permasalahan yang utama dengan mengakibatkan keterlambatan dalam penanganan sehingga komplikasi dan kematian terjadi lebih dini. Permasalahan tersebut dapat dikurangi bila masyarakat berperilaku hidup sehat dan hidup dalam lingkungan yang sehat melalui upaya pelayanan kesehatan yang berbasis promotif dan preventif.  Oleh karena itu, agar upaya tersebut dapat berjalan secara optimal, diperlukan partisipasi masyarakat sehingga dikembangkanlah suatu model pengendalian PTM yang berbasis masyarakat dikenal dengan nama Posbindu PTM. Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut faktor risiko PTM secara mandiri dan berkesinambungan. Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini masyarakat dalam mengendalikan faktor risiko PTM karena pada umumnya faktor risiko PTM tidak bergejala dan seringkali masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dalam keadaan komplikasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan pencegahan faktor risiko PTM dapat dilakukan sejak dini dan kejadian PTM di masyarakat dapat ditekan. Saat ini Posbindu PTM yang tersebar di 34 Propinsi sebanyak 17.000, kondisi ini belum memadai untuk mencegah peningkatan prevalensi PTM mengingat dikarenakan target yang diharapkan pada tahun 2017 sebanyak 30% dari jumlah Desa/Kelurahan keseluruhan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya akselerasi dalam replikasi Desa/Kelurahan yang menyelenggarakan Posbindu /CERDIK  PTM agar laju peningkatan prevalensi PTM dapat dicegah.

Deteksi dini FR PTM di rencanakan dilaksanakan di 12 Provinsi besar dengan prevalensi hipertensi dan obesitas yang tinggi dan juga memiliki jumlah penduduk yang banyak. Kegiatan ini akan di dukung oleh angaran DAK penugasan dalam penyedian alat Posbindu PTM dan Bahan Habis Pakai. Target kegiatan ini adalah dilaksanakan di 12 provinsi, 200 kab/kota, 1000 Puskesmas, 5000 Desa dengan pemeriksaan masing-masing desa minimal sebanyak 500 orang. Pada akhir kegiatan diharapkan akan ada 5.000 desa berposbindu dan minimal 2.500.000 orang yang telah diperiksa FR PTM.

 

Sumber : Bidang P2P










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)