Berita Utama

Tuberkulosis

Monitoring dan Evaluasi Program Penanggulangan Tuberkulosis Prov.Kalteng Tahun 2019

| Rabu, 26 Juni 2019 - 13:50:10 WIB | dibaca: 62 pembaca

TBC merupakan penyebab kematian ke-9 di dunia dan penyebab utama agen infeksius tunggal dengan peringkat di atas HIV/AIDS. Menurut WHO dalam Global TBC Report tahun 2017, saat ini Indonesia berada di 2 negara terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TBC setelah India dengan estimasi insiden sebesar 1.020.000 kasus atau 391 per 100.000 penduduk dan mortalitas 123.000 atau 47,1 per 100.000 penduduk (kasus TBC dan TBC HIV positif). Di global telah disusun End TBC Strategy yang bertujuan mengakhiri epidemi TBC global.

Dalam Rencana Strategi Nasional 2016-2020, terdapat enam strategi utama yang diperlukan untuk mencapai target tersebut, yaitu :

(1) Penguatan Kepemimpinan Program TBC di Kabupaten/Kota;

(2) Peningkatan Akses Layanan “TOSS-TBC” yang mencakup : active case finding dan intensifikasi kolaborasi layanan;

(3) Pengendalian Faktor Risiko;

(4) Peningkatan Kemitraan melalui Forum Koordinasi TBC;

(5) Peningkatan Kemandirian Masyarakat dalam Penanggulangan TBC; dan

(6) Penguatan manajemen program melalui penguatan Sistem Kesehatan.

Strategi ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan target Sustainability

Development Goals (SDGs) tahun 2030 adalah mengakhiri epidemi TBC, yaitu mencapai penurunan 90% kematian akibat TBC dan penurunan insidens TBC 80% dibandingkan tahun 2015.

Di tingkat nasional, TBC merupakan salah satu program yang diangkat dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional yang dilakukan pada 5-8 Maret 2018. Pada pertemuan tersebut, Ibu Menteri Kesehatan mengarahkan agar target eliminasi TBC di Indonesia dapat dipercepat tercapai di tahun 2030. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi antara pelaksana kegiatan TBC di pusat dan daerah serta dukungan lintas program dan lintas sektor agar target tesebut tercapai.

Di Kalimantan Tengah, penanggulangan TBC dengan strategi DOTS sudah dilaksanakan sejak tahun 1995/1996  hingga sekarang,  berdasarkan laporan tahun 2017 angka penemuan kasus TBC (CDR) dengan cakupan sebesar 30 %, Penghitungan estimasi beban TBC telah dilakukan dengan mempertimbangkan variabel jumlah penduduk, status ekonomi dan proporsi urban/rural di setiap kabupaten kota, berdasarkan perhitungan tersebut di Kalimantan Tengah pada tahun 2017 diperkirakan ada 11.831 kasus TBC Provinsi kalimantan Tengah pada tahun 2018 diberikan  target cakupan yaitu penemuan kasus TBC 60% dari CDR, yaitu 4.300 kasus yang harus ditemukan di tahun 2018, sementara itu cakupan/penemuan kasus TBC yang terlaporkan di Kalimantan Tengah

 

Tahun

2015

2016

2017

2018

Penemuan kasus

2538

2930

3392

3679

 

Dari data diatas dapat disimpulkan masih banyak kusus TBC di masyarakat yang belum terlaporkan, oleh sebab itu peran dari sektor swasta sangat diperlukan dalam pelaksanaan program pengendalian TBC dengan cara peningkatan jejaring layanan TBC melalui PPM (public private mix).

CNR Kalimantan Tengah tahun 2018 berada di angka 142/100.000 penduduk, meningkat CNR tahun 2017 yaitu 139/100.000 penduduk, Succes Rate (SR) sebesar 80% masih jauh di bawah target Nasional yaitu 90 %, sistem pelaporan dari kabupaten/kota masih belum berjalan dengan semestinya sehingga diperlukan komitmen untuk penguatan dan pencatatan pelaporan agar didapatkan data yang akurat dan valid serta diperlukan kerjasama lintas sektor dan lintas program yang lebih baik untuk meningkatkan penemuan kasus TBC.

Sumber : Bidang P2P/TB 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)