Perlu Diketahui

Malaria

Pertemuan Monitoring Dan Evaluasi Eliminasi Malaria Tahun 2019

| Kamis, 25 April 2019 - 11:28:51 WIB | dibaca: 47 pembaca

Malaria masih menjadi masalah global. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Selain itu, dapat mempengaruhi produktivitas yang dapat mempengaruhi tingkat ekonomi masyarakat. Kalimantan Tengah salah satu provinsi yang mempunyai kontribusi dalam peningkatan angka kesakitan malaria. Angka kesakitan malaria (API / Annual Malaria Incidence) per seribu penduduk di Kalimantan Tengah selama tujuh tahun berturut-turut sebagai berikut pada tahun 2010 sebesar 4,47 menurun pada tahun 2011 sebesar 4,06, pada tahun 2012 sebesar 3,93, tahun 2013 menjadi 2,36, tahun 2014 sebesar 1,04, tahun 2015 sebesar 0,56, tahun 2016 sebesar 0,1, tahun 2017 sebesar 0,3 dan tahun 2018 sebesar 0,24

Secara fakta epidemiologi tersebut di atas, berdasarkan penelusuran di lapangan pekerjaan menambang merupakan salah satu faktor penyebab penularan malaria. Permasalahan yang timbul adalah menambang secara illegal yang lebih banyak ditemukan menjadi penderita malaria. Area penambangan ini tersebar di beberapa lokasi di Kalimantan Tengah. Ini yang dinamakan sebagai daerah fokus. Menurut WHO daerah fokus adalah suatu daerah atau lokasi terbatas yang pernah ataupun masih ada kasus malaria serta memiliki faktor faktor epidemiologi yang menunjang terjadinya penularan malaria baik secara terus menerus maupun intermiten. Daerah fokus ini yang masih menjadi masalah upaya pengendalian malaria di Kalimantan Tengah.

Penanggulangan malaria dilakukan dengan upaya preventif (pencegahan penyakit), promotif (peningkatan kesehatan) dan kuratif (pengobatan) yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah KLB. Untuk mencapai hasil yang optimal, upaya preventif dan kuratif tersebut harus dilakukan dengan intensif, berkualitas, komprehensif dan berkesinambungan. Kebijakan pengendalian malaria terkini, bahwa diagnosis malaria harus terkonfirmasi baik secara mikroskopis maupun Rapid Diagnostic Test (RDT).

Pengendalian malaria di Indonesia yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. Komitmen eliminasi malaria ini didukung oleh Kementerian Dalam Negeri melalui Surat Edaran Mendagri No. 443.41/465/SJ Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Program Eliminasi Malaria Di Indonesia. Target eliminasi pada tahun 2018 adalah sebesar 285 kabupaten/kota yang mendapat sertifikat eliminasi malaria dan capaian eliminasi malaria kabupaten/kota 2018 adalah sebesar 285 kabupaten/kota yang telah mendapat sertifikasi bebas malaria dan masuk pada tahap pemeliharaan.

Indonesia diharapkan mencapai eliminasi malaria pada tahun 2030. Sedangkan, regional Kalimantan diharapkan tidak ditemukan lagi kasus indigenous pada tahun 2027. Sampai dengan tahun 2018 di Kalimantan Tengah terdapat 9 Kabupaten/Kota yang sudah mendapatkan Sertifikat Eliminasi Malaria diantaranya : Kabupaten Kotawaringin Barat, Barito Timur dan Barito Utara (sertifikat eliminasi malaria 2014), Kabupaten Sukamara (sertifikat eliminasi malaria tahun 2015), Kabupaten Lamandau (sertifikat eliminasi malaria tahun 2016), Kabupaten Seruyan (sertifikat eliminasi malaria 2017), dan Kabupaten Kotawaringin Timur, Barito Selatan, Palangka Raya (sertifikat eliminasi malaria 2018). Masih terdapat 5 kabupaten yang belum mendapatkan sertifikat eliminasi malaria (2019 akan dilakukan pra assessment dan assessment malaria untuk Kabupaten Pulang Pisau dan Katingan, selanjut nya Kab Murung Raya, Kapuas dan Gunung Mas akan diusulkan pra assessment dan assessment pada tahun 2020), Palangka Raya (22/4).

 

Sumber : Bidang P2P










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)