Berita Utama

G1R1J

Sosialisasi Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) di Kabupaten Lamandau Tahun 2019

| Senin, 02 September 2019 - 08:42:09 WIB | dibaca: 19 pembaca

Palangka Raya - Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus Dengue (Flavivirus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Penyakit ini apabila tidak ditangani segera dapat berakibat fatal, saat ini kasus terus bertambah demikian pula daerah yang terjangkit. Pada musim penghujan penyakit ini seringkali terjadi peningkatan DBD, karena terjadinya peningkatan kepadatan jentik.

Penyakit ini sangat endemis di kota - kota besar di Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah. Telah terjadi Kejadian Luar Biasa pada tahun 2009, 2012, 2014 dan 2016 di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah. Di Kalimantan Tengah angka kesakitan DBD tahun 2011 sebesar 24,17 per seratus ribu penduduk dan meningkat pada tahun 2012 sebesar 68,52 per seratus ribu penduduk, kemudian kembali menurun pada tahun 2013 menjadi 42,68, pada tahun 2014 menurun menjadi 36,85. Tahun 2015 dan 2016 angka kesakitan DBD meningkat menjadi 60,94 dan 66,91. Angka yang fluktuatif ini menunjukkan bahwa perlu adanya upaya yang komprehensif dalam menangani pengendalian penyakit ini agar terjadi penurunan kasus bermakna. Sebagai penyakit yang cenderung dapat menimbulkan kematian dan wabah, maka diperlukan upaya untuk pencegahan dan penanggulangannya secara baik dan benar. Seperti Pemberdayaan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk melalui kegiatan 3M PLUS dengan Pendekatan COMBl untuk menekan angka kesakitan, mengeliminasi faktor resiko dan memutus rantai penularan.

Upaya penanggulangan DBD telah banyak dikerjakan namun belum berhasil menekan angka kesakitan dan kematian di beberapa kabupaten / kota di Kalimantan Tengah. Target program angka kesakitan adalah kurang dari 49/100.000 penduduk dan angka kematian < 1%. Selain itu, angka bebas jentik >95 %. Upaya - upaya pengendalian belum berhasil karena belum optimalnya surveilans kasus, vektor dan virus DBD dalam rangka kewaspadaan dini mencegah KLB, tatalaksana kasus DBD yang belum standar karena diagnosis DBD yang terlambat, melaporkan ke dinas kesehatan/puskesmas juga terlambat sehingga Penyelidikan Epidemiologi (PE) juga terlambat dengan demikian kasusnya meningkat dengan tajam. Sampai saat ini, DBD belum memiliki obat, sehingga upaya paling efektif untuk mengendalikan penyakit ini adalah melalui pengendalian jentik nyamuk. Tahun 2015 secara Nasional telah dicanangkan gerakan satu rumah satu jumantik, diharapkan setiap rumah memiliki jumantik yang melaksanakan kegiatan 3M Plus di rumah masing - masing. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, terutama jentik nyamuk di berbagai tempat yang menjadi sarang nyamuk berkembang biak. Program PSN 3M adalah cara paling efektip dan murah dari yang lain. Sebelum diluncurkan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, PSN dilakukan oleh kader Jumantik dimana ada dua hingga tiga orang yang memantau perkembangbiakan jentik nyamuk di satu wilayah. Jumantik sendiri adalah anggota masyarakat yang dilatih dan berperan dalam pengendalian penyakit demam berdarah. Tugasnya memantau keberadaan jentik nyamuk, membuat laporan kegiatan pada Puskesmas, dan menggerakkan masyarakat untuk menjalankan PSN dengan cara 3M Plus. Namun, hal ini dalam pelaksanaannya masih ditemukan kendala, sebagian rumah yang tidak terjangkau oleh Kader Jumantik. Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dalam PSN mengandung pesan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian dimulai dari rumah tangga. Upaya pencegahan DBD akan berjalan optimal bila setiap rumah tangga berperan dan rutin melaksanakan PSN 3M Plus minimal satu minggu sekali. Komitmen negara-negara di ASEAN yang mencanangkan ASEAN DENGUE DAY (ADD) untuk pertama kalinya pada tanggai 15 Juni 2011 di Jakarta dan selanjutnya diselenggarakan setiap tahun oleh semua negara anggota ASEAN. Pada tahun 2017 ini, ADD yang dilaksanakan di Indonesia berupa rangkaian kegiatan dengan fokus anak sekolah. Rangkaian kegiatannya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penularan DBD dan bahayanya, penemuan dan tatalaksana dengue yang dapat dilakukan di sekolah, rumah dan lingkungan serta meningkatkan kesdaran dan peran serta masyarakat untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui GIRIJ. Di Kalimantan Tengah, sebagian besar upaya pemantauan jentik masih dilakukan melalui kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik). Sekitar 615 jumantik tersebar di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah. Tahun 2015 - 2016, dikembangkan pula juru pemantau jentik oleh siswa siswi (S1SMANTIK).

Berkaitan dengan hal tersebut, maka dibutuhkan Penguatan Kemandirian Masyarakat dan Koordinasi Mitra Terkait dalam Pembentukan Satu Rumah Satu Jumantik di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kapuas. Hal ini juga untuk menindaklanjuti surat dari Direktur Jenderal Ditjen P2P pada tanggai 14 Juni 2017 Nomor KM.04.01/1V/1618/2017 Hal Himbauan Penyelenggaraan Kegiatan dalam rangka Peringatan Hari Demam Berdarah se-ASEAN Tahun 2017, Selasa(2/7).

 

Bidang P2P










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)